Hidup, Hidup, Hidup! Hidup dan Bahagialah

Lia terbangun dan melihat warna-warna itu masih ada. 

Gugusan gunung dan perbukitan mengarah kepadanya dan di sanalah ia menemukan dirinya tidak lagi menjadi karang yang dapat ditembusi oleh angin melainkan sebagai pohon yang mengakar kuat menjulang menembus langit.

Dalam pandangannya dia melihat gunung-gunung yang berwarna-warni menyala, redup, dan menyala lagi seperti lampu pohon natal. 

Masih nampak sisa-sisa pondasi bangunan yang telah lama runtuh itu di permukaan tanah, di antara gunung-gunung gagah, semua itu nampak seperti apa adanya dan biasa saja. 

Juga luka, duri dalam daging yang melilitnya erat-erat.

Ia kembali teringat pada suara-suara yang dulu menakutkan hingga membuat tubuhnya bergetar kini telah berubah menjadi suara-suara yang begitu akrab di telinganya. 

Dan betapa kecilnya semua ingatan dan rasa takut itu saat ini, betapa tak berarti semua itu sekarang. 

Suara yang menerikkan, “mati, mati, pergi, pergi, mati! ... benar kau akan lompat sekarang?” telah menjadi suara yang indah karena suara orkestra dan dentum timpani dengan keriangan musim semi menjadi latar dari suara-suara itu yang lambat laun berubah menjadi, “hidup, hidup, bertahan, hidup, hidup!... bukankah lompatan itu sudah biasa bagimu?”

Lia tahu benar bahwa ia berada di ketinggian dan tak ingin mengakhiri keindahan yang dinikmatinya begitu lama. 

Semua pendaki merasakan keindahan itu, saat tubuh, jiwa, dan raga tidak lagi dapat dipisahkan dengan semesta karena yang ada hanya keindahan dan sukacita yang meluap-luap. 

Dalam keadaan ini tak ada lagi penerimaan yang lebih besar dan dahsyat bahkan citra diri yang paling hina dan jalang telah melebur menjadi sukacita dan damai. 

Jika aku jahat, pasti saja aku sudah mati dalam perjalanan dan tak akan sampai di puncak tertinggi ini. 

Diingatnya semua kebaikan yang pernah dibuatnya mulai dari memberi makan kucing liar kelaparan hingga menyelamatkan nyawa cicak yang hampir mati karena terjepit pintu. 

Aku yang begitu kecil di hadapan semesta dan dihadapan masa laluku yang kelam. 

Aku yang begitu kecil di hadapan semesta. 

Semesta yang tau siapa aku, semesta yang tetap menerimaku dengan hangat dan mesra.

Aku dibiarkannya hidup dan menikmati keindahan ini. Keindahan yang menjadi abadi.

Dikibas-kibaskannya kedua tangan kecil itu ke angkasa hingga didapatinya darah menggupal di tangan kiri dan duri-duri bernanah di tangan kanan. 

Dengan penuh kejujuran diterimanya kedua benda aneh yang muncul dari kibasan tangannya itu dan seketika itu juga duri yang melilit tubuhnya rontok dan berjatuhan menjadi bunga eidelwise sementara darah yang menggumpal itu mencair dan menjadi mata air dipuncak gunung itu. 

Kali ini bukan hanya longlongan anjing tetapi juga srigala, surili, gajah, dan babi hutan bersuara dengan keras seperti paduan suara yang berlomba menyanyikan madah sukacita diiringi oleh kicauan burung-burung dan raungan suara buldoser membersihkan sisa-sisa bangunan yang telah lama hancur itu.

Pohon-pohon yang ada di sekelilingnya dipenuhi dengan buah semangka dan buah naga sementara gunung-gunung itu lalu menjadi pasir diterbangkan angin menjadi semburat langit warna-warni yang berputar-putar di atas kepalanya membentuk gugusan oktagon yang menyala-nyala dan dilemparkannya tubuhnya masuk ke dalam pusat oktagon itu. 

Ah... tidak.... jangan lagi... aku belum ingin mengakhiri bagian pertama ini.... “blub....”





Komentar

Postingan Populer