Gunung Angin
Ini tempat tinggi tiba-tiba dipenuhi energi yang berputar-putar membentuk medan magnetik yang terus memantul menciptakan energi di antara batu-batu yang berdiri bagaikan para penjaga.
Sebagian batu terkunci di antara akar pohon sebagian lagi saling bertumpuk satu sama lain.
Malam yang gelap berubah menjadi terang dipenuhi warna-warni dari angin yang berputar dan menciptakan lubang cahaya yang cukup besar untuk mengeluarkan seekor kerbau dewasa dari dalamnya.
Ketika angin itu hilang, energi magnetik yang memantul di atara batu-batu itu tidak ikut hilang bersama dengan angin, melainkan berubah menjadi cahaya yang bersinar dan menunjukkan siapakah batu-batu itu.
Lia takjub dengan apa yang dilihatnya di tempat itu.
“Betapa beruntungnya aku berada di tempat ini.” Dibuatnya sikap hormat barang sejurus kemudian melepas alas kakinya lalu mencium tanah di mana ia berdiri.
Dia memandang kepada tumpukan batu yang menyerupai wajah dan pohon di atasnya seperti energi yang menyembul keluar dari mahkota di wajah itu.
Lia hanya terdiam membisu karena takjub akan apa yang dilihat olehnya.
Angin yang berhembus begitu hangat seolah menerima dirinya dengan pelukan kasih.
Baru kali itu Lia merasa sangat diayomi dan diterima secara lahir batin. Perasaan yang sangat didambakannya.
Sejenak Lia kembali teringat kembali akan berbagai peristiwa yang telah dilaluinya hingga tersadarlah dia bahwa kedua bibirnya belum juga lepas dari batu yang dikecupnya dan badannya yang tengkurap di atas batu itu.
Tiba-tiba gelap hilang dan tempat itu dipenuhi cahaya dari batu-batu itu.
Merasakan hangat dan terang yang bersamaan menyentuh kulit dan kalbunya, Lia pun memberanikan diri untuk menengadah dan melihat ke arah wajah besar itu.
“Selamat Datang kembali dek.” Demikianlah kalimat itu sampai di telinganya.
“Selamat datang Aliana Sinta, adekku yang terkasih.”
Kalimat itu membuatnya terheran-heran. Bagaimana mungkin ia tahu nama lengkapku?
Siapakah Dia yang menyebut namaku?
“Jangan takut Lia, tak perlu juga kamu heran. Aku ini masmu. Aku masih di sini seperti janjiku padamu.



Komentar
Posting Komentar